Kajian Etnisitas: Pengalaman Kesukubangsaan

"Melukis Diri" 

Oleh Rezky Fajar


Berbicara mengenai tinjauan suku bangsa diri sendiri, saat kecil saya terlahir dan menetap di Kota Sukabumi, Jawa Barat. Secara letak geografis, daerah tersebut termasuk bagian dari suku Sunda. Dan apabila dilihat dari faktor keturunan kesukuan, kedua orang tua saya juga berasal dari suku Sunda. Ayah dan ibu saya dibesarkan dalam sebuah keluarga yang memegang erat identitas dan budaya Sunda. Hal ini dilihat dari silsilah keturunan yang hampir seluruhnya merupakan masyarakat suku Sunda, dan seringkali silsilah keluarga Sunda yang di kenal dengan istilah pancakaki menjadi salah satu dasar ketentuan mekanisme reproduksi. Berdasarkan dari salah satu latarbelakang tersebut, sejak kecil saya mulai menyadari bahwa saya merupakan bagian dari anggota kesukuan Sunda. Nilai ajaran budaya suku Sunda, telah menjadi dasar kedudukan dan peran keluarga saya dalam lingkungan masyarakat. Terlebih karena sosok almarhum kakek atau aki saya pernah menjadi salah satu pionir dalam kesenian sunda di daerah saya. Hal ini terlihat dari tradisi turun temurun keluarga saya yang menjadikan alat musik khas sunda Sukabumi-Cianjur yaitu kecapi dan suling ini, sebagai hiburan utama yang berasosiasi dengan Tembang Sunda dalam upacara adat pernikahan, khitanan, dsb. Meskipun demikian apabila dilihat dari faktor kesadaran identitas diri secara luas, serta mekanisme produk baik biologis maupun sosial, hal tersebut saya rasa masih belum terefleksikan.

            Pengetahuan dan kepatuhan menjalankan praktik kebudayaan tradisional, seluruhnya berasal dari ajaran kedua orang tua saya. Praktisasi kebudayaan Sunda yang berakulturasi dengan nilai keagamaan Islam, menjadi sebuah hal yang harus saya pahami dan patuhi. Meskipun demikian, sifat dari praktik kebudayaan terkait upacara atau tradisi Sunda tersebut, tidaklah menjadi keharusan setiap saat, selama tidak melanggar kaidah agama dan nilai-norma masyarakat. Seperti dalam kehidupan sehari-hari, keluarga saya menerapkan larangan, patangan, atau dalam istilah yang dikenal dengan pamali. Larangan tersebut sifatnya mengikat atau wajib, namun ada beberapa yang kerap diwajarkan atau bebas selama tidak melanggar ajaran islam dan norma masyarakat. Contohnya larangan untuk berpergian di malam hari, menjadi diperbolehkan selama ada keperluan yang mendesak. Selain itu, tradisi keluarga saya juga tidak mewajibkan dalam praktisasi kebudayaan sehari-hari, harus menggunakan pakaian khas Sunda (pangsi). Namun lebih menekankan pada penggunan bahasa Sunda lemes, serta nilai dan norma yang mencerminkan masyarakat Sunda dalam memegang budaya luhur kesopanan.

             Sejak di bangku sekolah dasar, mengenai bagaimana cara orang lain melihat saya dalam penunjukan identitas kesukuan dan sebaliknya, terkesan abstrak. Mengingat kelompok pertemanan saya relatif kecil dan homogen, sehingga tidak ada spesialisasi pengelompokan yang merujuk pada penunjukan identitas kesukuan. Dan dalam hal ini juga tidak ada interaksi yang merubah atau mempengaruhi nilai budaya lokal yang saya tanamkan hingga saat ini. Hal ini demikian, karena menurut saya pada fase ini kepentingan mengenai identitas kesukuan belum diperlukan. Dalam tahapan ini, anak-anak masih berada dalam penyesuaian sosialisasi awal dan belum menjalankan peran sosial yang sesungguhnya, sehingga dalam konteks ini identitas kesukuan masih bersifat non-krusial.

            Berlanjut pada masa remaja, dari SMP hingga SMA, kelompok pertemanan saya mengalami perkembangan. Terlihat dari jumlahnya yang bertambah, dan mulai muncul corak asal kesukuan didalamnya. Selain peran dalam kelompok pertemanan, adanya peran sebagai anggota dilingkungan kemasyarakatan yang cukup majemuk mulai saya rasakan. Seperti ikut serta dalam peran penyelenggaraan acara lomba permainan tradisional khas Sunda, lomba Galah asinan di kampung kecil saya. Sehingga saya merasa dalam fase ini, identifikasi konsep diri secara pribadi mulai terbentuk. Dan bagaimana cara orang lain melihat saya dalam penunjukan identitas kesukuan dan sebaliknya, juga mulai terjadi. Namun dalam hal ini, penunjukan konsep identitas kesukuan Sunda saya menyempit walaupun dalam cakupan daerah yang sama. Hal ini terlihat dari cara bagaimana teman saya memanggil identitas kesukuan Sunda yang beragam, berdasarkan konteks daerah kota dan pedalaman. Selain itu berbeda dengan masa kecil, dalam fase ini konteks keberagaman masyarakat berdasarkan pengelompokan suku mulai terlihat. Dan proses-proses seperti pertemuan dan interaksi antar suku, juga kerap terjadi meskipun hal tersebut tidak mempengaruhi dari praktisasi kebudayaan lokal Sunda yang telah saya pelajari.

             Sekarang, ketika saya berada dalam dunia perkuliahan, identitas sosial saya sebagai bagian dari suku Sunda sangat saya rasakan dan terasa penting. Daerah Jatinangor yang menjadi pusat pertemuan masyarakat dari berbagai kalangan suku, menyebabkan interaksi dan komunikasi selalu terjadi. Identitas saya yang pada awalnya hanya sebagai pelabelan bagi diri sendiri, kini berkembang fungsi menjadi sebuah alat pembeda sekaligus pembatas dengan yang lainnya. Disinilah saya merasakan bahwa cara orang lain melihat saya dalam penunjukan identitas kesukuan dan sebaliknya, sangatlah jelas. Dan saya merasakan identitas sub-kesukuan Sunda saya yang awalnya menyempit, kini meluas satu tingkat jika diklasifikasikan berdasarkan asal daerah tingkat kota atau kabupaten. Seperti saya adalah  bagian dari masyarakat suku Sunda asal Sukabumi, dan teman saya adalah masyarakat suku Sunda asal Sumedang. Meskipun saya menikmati segala bentuk interaksi dan komunikasi dengan teman dari berbagai suku yang beragam, pada kenyataannya kesukaran dalam bersosialisasi dalam kehidupan sehari-hari, membuat saya lebih nyaman untuk bergaul dengan teman yang memiliki latar belakang kesukuan yang sama. Hal yang mendorong saya untuk lebih nyaman saat bersosialisasi dengan teman yang memiliki latar kesukuan yang sama, yaitu terkait dengan keselarasan dalam bersikap, bertutur kata, dan cara pandang yang masih berpegang teguh dengan nilai budaya Sunda dan agama Islam. Seperti pada saat pertama kali saya berkomunikasi dengan teman saya yang berasal dari satu suku Sunda, saya secara refleks menyapa dengan menggunakan bahasa Sunda.            

            Hey timanana atuh!, suganteh sanes saderek sasunda!”, itulah perkataan pertama kali yang saya utarakan ketika melihat satu teman yang berasal dari satu kesukuan yang sama. Dan begitu sebaliknya teman saya menjawab dengan bahasa Sunda.

            Namun karena terjadi interaksi kebudayaan antar maupun intra kesukuan, seringkali menyebabkan perubahan dan pencampuran kebiasaan sehingga batas sosial kesukuan lokal tersebut kian memudar. Sebagai contohnya setelah saya beradaptasi di Bandung, penggunaan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari kini bergeser menjadi bahasa yang hanya saya gunakan ketika berkomunikasi dengan lawan bicara yang berasal dari kesukuan yang sama. Sebagai gantinya penggunaan bahasa Indonesia, dan bahasa campuran dari berbagai bahasa saya rasa lebih akrab digunakan dalam pengkomunikasian sehari-hari. Terutama dalam penggunaan imbuhan kata khas Sunda seperti, euy, teh atau eung, hampir saya hindari ketika berkomunikasi dengan teman antar kesukuan yang berbeda.

             Dalam hal adat kebiasaan, merantau di Bandung telah memberikan pemahaman saya terhadap nilai kearifan lokal budaya Sunda yang beragam disetiap daerahnya. Hal ini terlihat ketika teman saya, mengetahui asal tempat tinggal saya hanya dengan melalui ciri khas penggunaan logat dan kosakata komunikasi bahasa Sunda yang saya miliki. Berdasarkan dari tiga fase tersebut mengenai bagaimana cara orang lain melihat saya dalam penunjukan identitas kesukuan dan sebaliknya, hampir segala bentuk penunjukan tersebut berkonotasi dengan frasa bahwa saya adalah masyarakat suku Sunda, dan saya menerima itu. Terlebih identifikasi konsep diri sebagai bagian dari masyarakat sunda, sudah saya rasakan dan praktiksasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam hal ini saya menyadari bahwa identitas kesukuan adalah sesuatu yang melekat pada kesadaran diri seseorang, terlepas kebudayaan dan keberadaan yang ditempatinya.

Komentar