Halo teman-teman pembaca,
Mengawali postingan tulisan pertama, saya akan sedikit sharing mengenai resume esai etnografi yang ditulis oleh; Susan Rasmussen pada tahun 1995 berjudul, “Spirit Possession and Personhood Among The Kel Ewey Tuareg”; yang disunting oleh Haim Hazam dan Esther Hertzog, dalam bukunya yang berjudul, Serendipity in Anthropological Research The Nomadic Turn. Saya membagi membagi resume ini menjadi dua bagian, yaitu: inti pembahasan esai dan komentar pribadi serta lessons learned aku mengenai esai tersebut. Semoga bermanfaat dan mohon maaf apabila terdapat kekeliruan dalam penafsiran.
“Spirit
Possession and Personhood Among The Kel Ewey Tuareg”Oleh Susan Rasmussen, 1995
A.
Inti Pembahasan
a). Identifikasi
Esai ini membahas pengetahuan
mengenai konsep ritual kepemilikan Tende
n Goumaten yang diperoleh peneliti, ketika melakukan pengamatan terhadap
ritual pengusiran roh; pada komunitas Tuareg, berbahasa Tamajaq, di Niger
utara. Pengetahuan tersebut, berawal dari kejadian peneliti yang tidak terduga,
saat ditempatkan sebagai pasien (gouma),
yang akan menjalani pengusiran roh dalam ritual tersebut. Hal ini disebabkan karena
beberapa penduduk lokal berpendapat bahwa, peneliti berada dalam kondisi essuf (depresi atau tamazai), dan juga karena permintaan peneliti sendiri meminta untuk
diadakannya ritual kepemilikan, yang dimaknai nilai budaya lokal sebagai
pemintaan ritual untuk kesembuhan dirinya sendiri. Sehingga di samping memenuhi permintaan peneliti untuk membantu
studi pengamatannya, penduduk lokal yang terlibat juga berusaha untuk
menyembuhkan peneliti dari roh-roh alam liar. Namun setelah dianalisis lebih
lanjut, tujuan dilakukannya ritual tersebut selain untuk penyembuhan terkait
kondisi psikologis peneliti, juga berfungsi untuk kepentingan mereka sendiri
(orang tuareg) terkait tekanan dan konflik yang mereka alami. Orang tuareg
meyakini ritual tersebut dapat memprovokasi pengembaraan, yang berhubungan
dengan panggilan roh. Di samping itu esai ini juga mengeksplorasi kesejajaran
antara perjalanan spiritual, interpretasi etnografis, dan semi-nomadisme lokal.
Dalam esai ini peneliti mengungkapkan bahwa ia memperoleh
pemahaman dengan mengeksplorasi nomadisme simbolik, berdasarkan literal
tineliti dan peneliti sendiri. Peneliti dapat melihat perbedaan nomadisme,
terkait dengan geografis dan spiritual, yang memilki hubungan simbolik dengan
budaya lokal. Hal ini terlihat dari kegiatan yang mereka lakukan, seperti: pengembaraan
nomaden di padang gurun, perubahan emosi dalam ritual penyembuhan, transformasi
kreativitas puisi dalam ritual tende n goumaten, dan pada transisi jalan hidup
masyarakat Tuareg.
b). Hasil data dilapangan
Ritual kepemilikan Tende n Goumaten, merupakan sebuah
ritual yang melibatkan spiritual psikis pasien (gouma), oleh tabib atau peramal yang memiliki hubungan khusus
dengan roh. Ritual ini berfungsi sebagai pengusiran atau pemanggilan roh, yang
media pengobatannya terdiri dari musik drum dan nyanyian solo atau paduan suara
wanita, yang diyakini dapat menyenangkan roh alam liar (ke- essuf). Ritual ini biasanya diperuntukan bagi pasien yang tidak
menanggapi pengobatan oleh ulama atau marabout
melalui lantunan ayat suci Al-Quran. Masyarakat setempat percaya bahwa jiwa
atau iman seseorang akan mengalami perjalanan, melalui: ritual kepemilikan,
mimpi, perjalanan biasa, dan tentunya panggilan dari roh kel-essuf. Essuf sendiri merujuk pada tempat atau ruang
kesendirian, di luar komunitas adat istiadat. Sehingga masyarakat meyakini
terhadap roh bernama kel-essuf, yang
mengisi jiwa seseorang dalam kondisi kesepian, depresi, dan nostalgia. Roh
tersebut diyakini oleh masyarakat menghuni hutan belantara di luar desa, dan
tempat kosong yang dulunya adalah tempat yang ramai atau dipenuhi orang. Biasanya
roh yang memasuki manusia berlawanan jenis kelamin dengan yang dirasukinya.
Terlepas dari itu banyak roh yang matrilineal. Hal tersebut diperoleh peneliti
dari makna syair lagu yang dialunkan pada proses ritual, memberikan gambaran
keibuan. Contohnya dalam salah satu bait yang berbunyi, “…warisan roh melalui air susu ibu seorang…”. Selain berifat
individu, roh perempuan dan laki-laki menunjukan perbedaan terkait media
pengobatannya. Roh perempuan lebih memilih pada ritual yang menggunakan musik
berbunyi keras terkait penyakit hati dan jiwa, sedangkan roh laki-laki lebih
memilih Al-Quran terkait penyakit depresi dan gangguan lainnya.
Sebelumnya, peneliti pernah meminta
penduduk lokal untuk mengadakan ritual kepemilikan Tende n Goumaten, namun gagal karena gouma tidak tersedia. Hal tersebut dikarenakan karena kelompok
pengobatan ulama atau marabout telah
beroperasi di dekat tempat dilangsungkannya ritual tersebut, sehingga
eksistensi pengobatan melalui ritual ini menurun. Karena terjadi permasalahan
tersebut, ritual terpaksa diundur dan ditunda. Dan akhirnya ritual tersebut
diadakan kembali pada malam hari; hari sabtu, 12 Januari 2002, dan berlangsung
hingga pukul 03.00 dini hari. Ritual diadakan di salah satu rumah seorang
wanita dan dihadiri oleh sekelompok kecil kerabat.
Di samping mendokumentasikan
jalannya ritual, peneliti juga terlibat dalam semua rangkaian dan aturan
(sebagai pasien), termasuk melakukan tarian kepala yang sebagai penanda
kerasukan roh. Pasien, peserta lain, dan bahkan penyanyi lagu dapat mengalami
kerasukan secara spontan selama jalannya ritual tersebut. Alasan
para tabib atau peramal wanita berasumsi bahwa peneliti menderita essuf, karena
peneliti meminta mereka untuk mengatur ritual penyembuhan untuk dirinya
sendiri. Hal ini dikarenakan dalam nilai budaya leluhur Tuareg, tuturan lebih
ditekankan pada tuturan yang bersifat tidak langsung (kiasan atau tangalt), dibanding dengan tuturan
langsung. Selain itu perempuan lainnya berpendapat bahwa peneliti sedang
mengalami depresi (tamazai), yang
rentan dirasuki roh. Pendapat tersebut diakui oleh peneliti, berawal ketika ia teringat
kenangan ruang yang dulunya dipenuhi banyak orang, kini berubah menjadi ruang
nostalgia semenjak kondisi kesehatan ayah asistennya yang mulai menurun. Akibat
keterlibatan emosinya, membuat peneliti merasakan esensi essuf, sehingga ia
mencemaskan kesehatan orang tuanya dan rindu terhadap keluarganya. Pendapat dan
pertanyaan yang dilontarkan oleh penduduk perempuan tersebut kepada peneliti,
merupakan sebuah bentuk interpretasi emosional mereka sebagai sesama perempuan,
kaitannya dengan permasalahan dialami perempuan Tuareg meliputi: asmara,
pekerjaan, dan perceraian. Tidak hanya oleh kalangan wanita, asumsi-asumsi
tentang gejala kerasukan peneliti juga ditunjukan oleh ulama dan dukun
setempat. Dukun berasumsi hal tersebut karena konflik dan dilema sosial yang
dialami peneliti, saat melangsungkan penelitian terlibat.
Pengisi dari acara ritual tersebut, seperti penyanyi solo
dan pemusik berasal dari anggota kerabat keluarga. Penyanyi solo menyanyikan
sebuah syair puisi dan diiringi oleh pola gendang. Terdapat lima buah lagu yang
dinyanyikan oleh penyanyi solo dengan syair dan pengiring musik yang berbeda,
dan di setiap akhir bait terdapat sisipan yang merujuk pada peringatan
tokoh-tokoh tertentu. Contoh dalam lagu pertama berjudul Yelwa, dengan alunan gendang berirama lambat, syair awalnya bertema
jarak dan kesendirian (panggilan kel-essuf),
kemudian di akhir syair berisi pujian terhadap pahlawan. Selain itu, demikian
pada lagu-lagu berikutnya yang memiliki berbagai gambaran seperti: pemujian
tenaga kerja migran, doa, harapan terhadap keluarga atau kerabat, dan
peristiwa-peristiwa menyedihkan yang dirasakan oleh penyair. Sehingga peneliti
melihat bahwa selain untuk penyembuhan, proses ritual tersebut merefleksikan
emosi masyarakat; kedalam kegembiraan, kesedihan, dan nostalgia. Makna dari
syair-syair tersebut termasuk ke dalam kiasan metaforis, yang memberikan efek
menenangkan untuk penyembuhan tubuh dan jiwa pasien, serta semua yang terlibat
dalam ritual kepemilikan tersebut.
c). Kesimpulan
Berdasarkan data yang peneliti
temukan dalam lapangan, peneliti perlu melewati sentimen pribadi terhadap
interaksi dengan penduduk lokal, untuk memperoleh deskripsi makna melalui
kegiatannya dengan penduduk lokal. Selain itu dengan keterlibatan peneliti
dengan penduduk lokal, hal ini juga berfungsi untuk menjembatani kesenjangan
antara asumsi peneliti dan rasio kebenaran yang ada dilapangan. Seperti ketika
peneliti diperlakukan layaknya sebagai pasien (orang yang kerasukan), ia
merasakan makna sesungguhnya di samping pengobatan dalam ritual tersebut.
Sehingga dalam hal ini, peneliti mengungkap bahwa keberhasilan seorang peneliti
dalam mengungkap makna dan pengetahuan dari sebuah kejadian, membutuhkan kehati-hatian
dalam merefleksikan sentimen subyektif, dan tentunya kesabaran untuk memperoleh
makna dan pengetahuan secara mendalam. Sehingga hal ini berarti bahwa
perjalanan spiritual, serta kejadian-kejadian yang dialami oleh peneliti dan
penduduk tuareg, telah menciptakan nomadisme intelektual. Sehingga melalui
nomadisme intelektual tersebut menghasilkan nilai pengetahuan, yang sejatinya
diperoleh dari ritual kepemilikan (Tende
n Goumaten) yang dijalani peneliti sendiri. Lalu darimana awal mulanya
terjadinya nomadisme intelektual tersebut?.
Awal nomadisme intelektual tersebut,
terjadi ketika peneliti memasuki ruang kerasukan dan essuf. Peneliti mengungkapkan bahwa terjadi proses pemaknaan
istilah spiritual dan nomadisme intelektual, namun tidak secara definitif
berasal dari konsep kerasukan. Karena seperti yang kita ketahui konsep kerasukan,
dapat memberikan makna yang sama atau berbeda tergantung dari berbagai macam
sudut pandang, seperti: antropologi medis, antropologi agama, dan teori budaya
umum. Perbedaan makna tersebut mendorong munculnya permasalahan antara
kebenaran dan keyakinan. Terlebih dalam masyarakat lokal Tuareg, konsep
kerasukan tersebut dimaknai sebagai register alternatif dari ritual kepemilikan
spiritual. Sehingga dalam kasus ini, untuk menyeimbangkan hubungan antara idiom
peneliti dan penduduk lokal, peneliti juga harus memaknai konsep tersebut
melalui idiom masyarakat Tuareg. Perjalanan spiritual tuareg di bangun secara
metaforis di atas konsep kosmologis yang penting, meliputi; ruang geografis,
emosional, dan simbolik. Perjalanan tersebut terkesan metaforis, namun
sebenarnya dipahami secara harfiah oleh masyarakat setempat. Dalam hal ini,
berarti seorang peneliti dilarang untuk membuat pertentangan palsu antara
antara idiom lokal pada suatu masyarakat, dengan pengetahuan dalam teori
Antropologi. Peneliti berusaha melihat persimpangan di antara pengalaman dalam
kontruksi pegetahuan bersama.
Seperti dalam penelitiannya, ia mengungkapkan bahwa apa
yang telah dilaluinya sejalan dengan tujuan antropologis, untuk melampaui
sistem epistemologisnya sendiri, demi mendapatkan wawasan sistem epitemologis
lian. Pengalaman subyektif peneliti harus mampu menjadi alat bantu untuk
memahami liyan, dan bukan menjadi penghambat pemaknaan liyan tersebut. Sehingga
dengan hal ini, peneliti mencoba mengungkap lebih dalam makna ritual masyarakat
suku tuareg, dengan mengkontekstualisasikannya di dalam aspek sejarah, politik,
dan sosial-ekonomi. Hal tersebut digambarkan dalam ritual ini, bahwa para
penyanyi dalam ritual berusaha untuk membawa orang-orang yang terpencar di
berbagai ruang kekosongan (essuf),
kembali ke komunitas mereka untuk saling bersosialisasi lebih dekat kembali. Sehingga
perjalanan spiritual yang puitis, telah mendorong penduduk lokal dan peneliti
untuk mengisi ruang kosong essuf. Dengan
demikian hal tersebut merujuk pada refleksi diri, yang membawa peneliti kepada
pemahaman yang bernuansa tentang ritual kepemilikan Tende n Goumaten, melalui nomadisme intelektual.
B.
Komentar dan Lessons Learned
Menurut saya, esai yang bertema
penelitian etnografi ini, merupakan esai
yang menarik dan edukatif. Meskipun topik yang dibahas dalam tulisan ini menurut
saya tergolong sulit, akan tetapi berkat penggunaan bahasa serta diksi yang
ringan dan komunikatif, sehingga tidak terlalu sulit untuk dipahami oleh
pembaca awam seperti saya. Deskripsi etnografi tentang masyarakat Tuareg,
sangatlah lengkap dan mendalam, sehingga pembaca khususnya saya dapat
menginterpretasikan deskripsi tersebut menjadi sebuah wawasan tentang
keberagaman. Selain itu saya juga memperoleh edukasi mengenai tentang tata cara
pengumpulan data etnografi yang baik dan benar, meskipun tata cara pengambilan
data yang diperoleh peneliti dideskripsikan dalam bentuk narasi, hal ini tidak
mengurangi pemahaman pembaca terkait hal tersebut.
Pembelajaran
yang saya peroleh dari esai ini, yaitu; pertama, kejadian yang tidak terduga
dan terlepas dari tujuan utama pengamatan seorang etnografer di lapangan, akan
selalu menghampiri. Namun terkadang kejadian yang di luar ekspetasi tersebut,
justru membuka wawasan baru peneliti, terkait suatu hal yang tidak ia bayangkan
sebelumnya. Kedua, dalam kontruksi pengetahuan antropolog ketika dalam
penelitian etnografinya, akan dihadapkan dengan konsep keyakinan yang ia miliki
dengan kebenaran pada realita lapangan. Terkadang ketika seorang etnografer
berada di lapangan dan mencoba untuk menginterpretasi sesuatu yang terjadi
disana, akan terjadi suatu pembalikan pengetahuan yang ia yakini dan pahami,
dengan realitas yang ada di lapangan.
Bagian yang paling menarik menurut saya adalah ketika peneliti memasuki ke dalam perjalanan spiritual penduduk lokal. Alih-alih untuk mengamati proses ritual pengusiran dan ritual kepemilikan pada masyarakat Tuareg, peneliti justru ikut menjelajahi perjalanan spiritual dengan penduduk lokal berdasarkan idiom penduduk lokal dan pengetahuannya sendiri. Sehingga peneliti memperoleh wawasan baru tentang makna lain dari ritual bagi penduduk lokal Tuareg dan dirinya sendiri, melalui nomadisme intelektual. Hal ini terlihat dari narasi mengenai kesulitan-kesulitan yang di peroleh peneliti (etik), juga berdasarkan kesulitan yang diperoleh masyarakat Tuareg (emik). Dan itulah sekilas tentang resume yang saya pahami, dari hasil proses membaca etnografi mengenai esai tersebut.
Bibliografi
Rasmussen,
Susan. 1995. “Spirit Possession And Personhood Among The Kel Ewey Tuareg”. Dalam:
Hazan & Hertzog (eds.), Serendipity
in Anthropological Research The Nomadic Turn. Cambridge: Cambridge University
Press. & England: Ashgate Publishing Company. Hlm. 141-156.

Komentar
Posting Komentar